Jakarta, CNBC Indonesia – Rupiah kembali melemah dihadapan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (2/4/2024), di mana mata uang Garuda tersebut makin mendekati level psikologis Rp 16.000/US$.

Berdasarkan data Refinitiv pada pukul 09:00 WIB, rupiah dibuka melemah 0,41% ke posisi Rp 15.950/US$.

Sebelumnya pada penutupan perdagangan Senin kemarin, rupiah ditutup melemah 0,22% di posisi Rp15.885/US$.


Rupiah kembali merana di pembukaan perdagangan hari ini di tengah tingginya permintaan akan dolar AS menjelang libur lebaran dan aliran dana asing yang masih keluar dari RI.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia Edi Susianto mengungkapkan pelemahan rupiah dipengaruhi oleh repatriasi dividen dari dalam negeri yang mendorong permintaan dolar AS, serta arus keluar.

BI juga mengaku rilis data inflasi Maret 2024 yang berada di atas ekspektasi pasar, ikut memberikan dampak. Kendati demikian, Edi memastikan BI tetap berada di pasar.

“BI terus masuk pasar, untuk menjaga agar terdapat keseimbangan supply demand valas di market,” tegasnya kepada CNBC Indonesia, dikutip Selasa (2/4/2024).

Sementara itu, ekonom Maybank Indonesia Myrdal Gunarto menilai pergerakan rupiah tersebut dipicu oleh permintaan tinggi dolar AS di dalam negeri.

Mulai dari untuk kebutuhan impor BBM jelang Lebaran atau Idul Fitri 2024 hingga musim pembagian dividen.

“Yang membuat Rupiah melemah karena permintaan dolar tinggi untuk impor BBM, maupun hot money outflow, serta permintaan dolar domestik meningkat saat ada musim pembagian dividen,” kata Myrdal kepada CNBC Indonesia, Senin (1/4/2024).

Sebagai informasi, di momen lebaran pada April 2024 ini, masyarakat cenderung kembali ke kampung halaman atau pun berwisata yang tentu akan memerlukan BBM dalam mobilitas. Maka dari itu, permintaan akan BBM akan naik atau dengan kata lain impor minyak akan melonjak.

Lebih lanjut, dana asing juga keluar dari pasar keuangan domestik khususnya Sertifikat Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Data transaksi 25-27 Maret 2024, investor asing tercatat jual neto Rp1,36 triliun dan jual neto Rp0,74 triliun di SRBI. Sementara pada pekan ketiga Maret 2024,

investor asing juga tercatat jual neto sebesar Rp6,68 triliun dengan jual neto Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp8,2 triliun.

Menurut Rully Wisnubroto dari Mirae Asset Sekuritas Indonesia, faktor pendorong pelemahan rupiah utamanya yakni dari eksternal khususnya datang dari AS. Ketua bank sentral AS (The Fed) Jerome Powell memberi sinyal tidak akan terburu-buru menurunkan suku bunga.

Oleh karena itu, higher for longer masih akan berlangsung untuk beberapa waktu ke depan.

Kuatnya data ekonomi AS masih cukup kuat belakangan ini. Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) yang tidak termasuk makanan dan energi pada Februari 2024 tercatat 2,8% secara tahunan dan naik 0,3% dari bulan lalu. Kedua angka tersebut sesuai dengan perkiraan Dow Jones.

Termasuk biaya pangan dan energi yang berfluktuasi, angka utama PCE menunjukkan kenaikan sebesar 0,3% pada bulan ini dan 2,5% pada tingkat 12 bulan, dibandingkan perkiraan sebesar 0,4% dan 2,5%.

Dilansir dari Reuters, data inflasi terbaru AS diungkapkan oleh ketua bank sentral AS (The Fed) Jerome Powell bahwa sudah sesuai dengan apa yang ia lihat.

Komentar Powell sejalan dengan pernyataannya setelah pertemuan kebijakan The Fed sebelumnya, di mana ia mengatakan inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan pada Januari dan Februari tidak mengubah perasaan bahwa kenaikan harga akan terus turun tahun ini hingga mencapai target 2% bank sentral.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Menanti Neraca Pembayaran RI, Gimana Nasib Rupiah Hari Ini?


(chd/chd)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *