Jakarta, CNBC Indonesia – Rupiah masih merana terhadap dolar Amerika Serikat (AS), pada perdagangan kemarin, Selasa (2/4/2024) bahkan sempat menyentuh di atas Rp15.900/U$, level paling lemah sejak 4 tahun terakhir.

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah mengakhiri perdagangan kemarin di posisi Rp 15.895/US$ di pasar spot, melemah tipis 0,06% di hadapan dolar AS. Ini menandakan bahwa rupiah semakin mendekati level psikologis Rp 15.900/US$.

Adapun di Asia, secara mayoritas melemah tipis. Hanya won Korea Selatan yang berhasil menguat kemarin yakni mencapai 0,13%.



Faktor eksternal dan internal menjadi pemicu rupiah masih melemah terhadap dolar AS. Salah satunya, Indeks dolar menguat tajam setelah data-data menunjukkan ekonomi AS melaju kencang.

S&P Global melaporkan jika ISM Manufacturing AS melesat ke 50,3 pada Maret, melonjak dibandingkan Februari yang tercatat 47,8. Data tersebut juga menunjukkan jika indeks untuk pertama kalinya menyentuh zona ekspansif dalam 16 bulan terakhir.

Data tersebut menunjukkan jika aktivitas pembelian dan pasokan dari bisnis di AS masih sangat kuat. Artinya, ada ancaman inflasi masih panas ke depan.

Inflasi pengeluaran pribadi warga AS atau PCE pada Februari 2024 naik menjadi 2,5% secara tahunan (year-on-year/yoy) , dari sebelumnya pada Januari lalu sebesar 2,4%. Meski begitu, angka ini sudah sesuai dengan ekspektasi pasar.

Semalam juga rilis data terkait tenaga kerja di negeri Paman Sam. Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) dalam Survei Pembukaan Pekerjaan dan Perputaran Tenaga Kerja (JOLTS) melaporkan jumlah lowongan pekerjaan pada hari kerja terakhir Februari mencapai 8,75 juta.

Angka ini lebih rendah dari posisi Januari lalu sebanyak 8,86 juta pembukaan pada dan sedikit di atas ekspektasi pasar sebesar 8,74 juta.

Namun JOLTS menunjukkan bahwa PHK meningkat menjadi 1,7 juta pada Februari lalu, dari sebelumnya sebanyak 1,6 juta pada Januari lalu, yang merupakan angka tertinggi sejak Maret 2023.

Beralih pada hari ini, Powell akan kembali berpidato dalam Economic Outlook di Stanford Business, Government, and Society Forum, Stanford, California.

Acara ini mempertemukan para pemimpin dari kalangan bisnis, organisasi nirlaba, pemerintah, dan akademisi untuk melakukan dialog konstruktif mengenai isu-isu terkini, termasuk pasar bebas, teknologi, dan keberlanjutan.

Pelaku pasar setidaknya akan menerima gambaran terkait kebijakan the Fed lebih lanjut, apalagi semalam sudah rilis beberapa data dari pasar tenaga kerja, sekaligus kemarin ada PMI Manufaktur.

Berdasarkan perangkat CME FedWatch, investor kini melihat peluang 56,3% bahwa The Fed akan memulai siklus pelanggarannya pada pertemuan Juni. Ekspektasi pasar jauh di bawah pekan lalu yang mencapai 63%.

Kembali lagi ke persoalan internal, Mahkamah Konstitusi (MK) akan melanjutkan sidang Perselisihan Hasil Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden hari ini. Agenda sidang adalah mendengarkan keterangan ahli dan saksi dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu).

Teknikal Rupiah

Secara teknikal dalam basis waktu per jam, gerak rupiah dalam melawan dolar AS mulai sideways atau terkonsolidasi dalam rentang support Rp15.875/US$ sampai resistance di Rp15.945/US$.

Posisi support tersebut didapatkan dari garis rata-rata selama 50 jam atau Moving Average/MA 50. Sementara, untuk resistance didapatkan dari high candle intraday yang sempat diuji kemarin, Selasa (2/4/2024).

Jika gerak rupiah masih berada dalam area tersebut, tren sideways masih akan berlanjut. Namun, tetap perlu diantisipasi jika harga keluar melewati level resistance, rupiah akan kembali tertekan dalam tren pelemahan.




Pergerakan rupiah melawan dolar ASFoto: Tradingview
Pergerakan rupiah melawan dolar AS

CNBC INDONESIA RESEARCH

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Jelang Rilis Suku Bunga BI, Mampukah Rupiah Libas Dolar AS?


(tsn/tsn)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *