Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup jatuh lagi pada perdagangan Jumat (19/4/2024), di tengah memburuknya kembali sentimen pasar global pada hari ini.

IHSG ditutup ambles 1,11% ke posisi 7.087,32. Koreksi IHSG sudah mulai terpangkas sejak perdagangan sesi II. Sebelumnya, IHSG sempat ambruk 1,69% di perdagangan sesi I hari ini.

Nilai transaksi indeks pada akhir perdagangan hari ini mencapai Rp 13 triliun dengan melibatkan 19 miliar lembar saham yang ditransaksikan sebanyak 1,2 juta kali.

Banyak sektor saham yang berjatuhan pada hari ini dan turut membebani IHSG. Adapun sektor tersebut yakni teknologi yang mencapai 2,78%, transportasi sebesar 2,46%, konsumer non-primer sebesar 1,77%, properti sebesar 1,62%, keuangan sebesar 1,24%, dan industri sebesar 1,21%.

Selain itu, beberapa saham juga terpantau menjadi penekan (laggard) IHSG pada akhir perdagangan hari ini. Berikut daftarnya.


Saham perbankan raksasa kedua di Indonesia yakni PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menjadi penekan atau laggard terbesar IHSG di akhir perdagangan yakni mencapai 23,2 indeks poin.

IHSG kembali terdampak dari rupiah yang kembali terkoreksi pada pagi hari ini. Dilansir dari Refinitiv pukul 15:00 WIB, rupiah melemah 0,49% di angka Rp 16.250/US$.

Rupiah dan IHSG kembali merana di tengah memburuknya kembali sentimen pasar global, setelah Israel merespons serangan balasan Iran pada Sabtu lalu.

Seperti diketahui, Israel telah meluncurkan rudal sebagai serangan balasan terhadap Iran pada Jumat dini hari tadi. Hal itu diungkap pejabat senior AS kepada ABC News.

Peluncuran rudal tersebut menyusul serangan Iran pada Sabtu lalu, di mana negara tersebut mengirimkan lebih dari 300 drone dan rudal tanpa awak ke sasaran di seluruh negeri. Semua kecuali beberapa dicegat oleh Israel dan sekutunya, termasuk AS.

Sementara itu, sebuah ledakan terdengar di kota Ghahjaworstan di Iran, terletak di barat laut kota Isfahan, menurut kantor berita semi-resmi Iran FARS, mengutip sumber-sumber lokal.

Memanasnya situasi di Timur Tengah membuat investor cenderung menghindari aset berisiko seperti saham dan cenderung mengoleksi atau memburu aset aman (safe haven), sehingga pasar saham kembali merana akibat respons pasar terhadap ketegangan di Timur Tengah.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Habis Cetak Rekor IHSG Balik Lesu, Saham Ini Biang Keroknya


(chd/chd)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *