Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada sesi I perdagangan awal Mei 2024 ini ditutup ambruk 1,63%.

Sentimen ‘sell in May and go away’ tampaknya masih menjadi momok bagi para investor saham.

Dari data penutupan perdagangan saham sesi I, Kamis (2/5/2024), sebanyak 392 saham bergerak turun, 174 saham naik, dan 191 saham bergerak stagnan. Ada 11,453 miliar lembar saham yang ditransaksikan, dengan nilai transaksi Rp 8,355 triliun, dan frekuensi 755.411 kali.

Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta Utama mengatakan, ada beberapa faktor yang menjadi penyebab keruntuhan pasar saham RI hari ini. Di antaranya, sentimen kebijakan bank sentral The Fed, beberapa data ekonomi dalam negeri.

“Isu krusial saat ini The Fed,” ujarnya kepada CNBC Indonesia, Kamis (2/5).

Seperti diketahui, Bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) kembali menahan suku bunga acuan di level 5,25-5,50% untuk keenam kalinya secara beruntun pada Rabu waktu AS atau Kamis dini hari waktu Indonesia (2/5/2024).

The Fed menegaskan tidak akan ada kenaikan suku bunga pada tahun ini. Namun, mereka juga mengatakan belum ada kemajuan berarti dalam penurunan inflasi sehingga akan menunggu lebih banyak data pendukung sebelum memangkas suku bunga acuan.

The Fed dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) mengerek suku bunga sebesar 525 bps sejak Maret 2022 hingga Juli 2023. Mereka kemudian menahan suku bunga di level 5,25-5,50% pada September, November, Desember 2023, Januari 2024, Maret 2024, dan Mei 2024.

“Inflasi sudah melandai dalam setahun terakhir tetapi tetap tinggi. Dalam beberapa bulan terakhir, hanya ada sedikit kemajuan dalam pergerakan inflasi menuju target sasaran 2%,” tulis The Fed dalam pernyataan resminya.

Menurutnya, isu The Fed memberikan respon yang negatif bagi para investor terhadap emiten-emiten dalam negeri.”Pendorong IHSG terkait dengan eksternal terkait The Fed dynamic. Jadi ini memberikan sentimen negatif utk perusahaan,” sebutnya.

Sementara dari sisi domestik dipengaruhi oleh angka inflasi Indonesia yang masih berada di bawah ekspektasi. Namin, angka inflasi masih cenderung stabil dan terkendali.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi April 2024 mencapai 0,25% secara bulanan (month to month). Sementara itu, inflasi tahunannya mencapai 3,0% (yoy) dan secara tahun kalender sebesar 1,19% (ytd). Tingkat inflasi bulanan pada April ini lebih rendah dari bulan sebelumnya dan dari posisi April 2023.

Adapun, konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia dari 10 institusi memperkirakan inflasi April 2024 akan mencapai 0,33% dibandingkan bulan sebelumnya (month to month/mtm).

Hasil polling juga memperkirakan inflasi (year on year/yoy) akan berada di angka 3,08% pada April. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan Maret 2024.

Sebagai catatan, inflasi pada Maret 2024 tercatat 3,05% (yoy) dan 0,52% (mtm) sementara inflasi inti mencapai 1,77% (yoy).

Sementara Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nicodemus merevisi target IHSG hingga akhir tahun ini. Sehingga daya tarik berinvestasi di asset aset berisiko mungkin akan berkurang, dan berpindah ke aset yang lebih aman seperti obligasi, deposito ataupun emas.

“Kami masih melihat IHSG akan berada di 7.350 – 7.460 di akhir tahun. Potensi dibawah 7.000 ada, tapi mungkin kecil. Tapi apapun itu semua bisa terjadi,” pungkasnya.

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


The Fed Tahan Suku Bunga, Pasar Saham RI Siap Pesta Cuan


(fsd/fsd)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *