Jakarta, CNBC Indonesia – Aliran modal asing berpotensi terus masuk ke Indonesia, imbas dari aset-aset keuangan tanah air yang masih menarik bagi investor asing.

Hal ini diungkap oleh Senior Vice President Moody’s Ratings, Eugene Tarzimanov dalam program Power Lunch CNBC Indonesia, sebagaimana dikutip Senin (13/5/2024).

“Kita tidak melihat perubahan besar dalam selera investor terhadap aset-aset keuangan di Indonesia,” ucapnya.

Eugene menjelaskan pernyataan ini didasari dari besarnya aliran modal asing, termasuk investasi portofolio yang masuk ke Indonesia sepanjang tahun lalu.

Berdasarkan catatan Bank Indonesia sepanjang 2023, hingga 21 Desember 2023, investor asing beli neto Rp 81,40 triliun di pasar surat berharga negara (SBN).

Sementara itu, di pasar saham, tahun lalu investor asing jual neto Rp 11,61 triliun. Sedangkan di pasar Sekuritas Rupiah Bank Indonesia masuk secara neto Rp 52,81 triliun.

“Kami sudah tracking aliran modal asing ke portofolio Indonesia. Saya pikir tahun lalu datanya cukup bagus yang masuk secara netto ke Indonesia,” tegas Eugene.

Seusai Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan BI Rate pada April 2024 sebesar 25 basis points menjadi 6,25%. Aliran modal asing pun semakin kencang masuk ke Indonesia.

Pada pekan pertama dan kedua Mei 2024 saja sudah terdapat Rp 22,84 triliun aliran modal asing yang masuk ke Indonesia. Mayoritas masuk ke pasar SRBI sebesar Rp 19,77 triliun.

Sedangkan sejak awal 2024 hingga 7 Mei 2024, aliran modal asing masuk neto Rp 46,61 triliun di pasar SBN, beli neto Rp 3,83 triliun di pasar saham, dan beli neto Rp 31,43 triliun di SRBI.

Eugene mengatakan, karena kebijakan suku bunga acuan BI memberi daya tarik terhadap investor portofolio, tak heran rupiah mampu terus menguat saat ini, sejak melemah signifikan pada 16 April 2024.

Saat itu, rupiah bergerak ke level Rp 16.176 per dolar AS berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI. Padahal, sehari sebelumnya di level Rp 15.873.

Lalu, pergerakannya terus memburuk hingga menembus level Rp 16.280 per dolar AS pada 19 April 2024, hingga akhirnya bertengger di kisaran Rp 16.085 per 13 Mei 2024.

“Jadi memang, kenaikan suku bunga di Indonesia itu telah menghasilkan penguatan mata uang rupiah, sehingga pelemahan rupiah sudah sedikit berbalik saat ini,” ucap Eugene

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Simak! Keputusan Lengkap BI Tahan Suku Bunga Acuan 6%


(arm/mij)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *